from Fien

Syaloom,
dari milist tetangga :

Smile

Cicie Mei Hwa

==============================
nih saya ambil dari :

http://agungsulistyo.wordpress.com/

Ali Markus: Pendeta Penipu dari Jawa Timur

Setelah heboh pelecehan al-Qur´an di Malang beberapa
waktu lalu,
kini muncul lagi kaset VCD pelecehan terhadap Islam.
Pelakunya Pendeta Markus Margiyanto.
Pelecehan terhadap islam ini sangat mengejutkan
masyarakat Malang, Jawa Timur. Apalagi rentang waktu
dengan heboh VCD pelecehan al-Qur´an di Hotel Asida
itu, tidak terlalu lama.
Kasus pelecehan baru ini yang juga melalui VCD,
dilakukan seseorang yang mengklaim dirinya mantan
ketua FPI Jawa Timur.

Namanya, Pendeta Muhammad Paulus bin Ali Makhrus at
Tamimi.
VCD ini pertama kali didapat oleh Abu Rantizy, Ketua
Tim FAKTA (Forum Anti Gerakan Kemurtadan) Malang yang
diperoleh dari temannya yang berinisial EU, (25 Aug
07), seorang mekanik komputer di Kota Batu.

EU mendapatkan video tsb dari sebuah CPU (Central
Processing Unit) komputer milik pegawai Kecamatan Batu
yang dia servis. “Saya melihat kok ada filmnya si
Makhrus itu, lalu saya minta dan diapun mengijinkan.
Kemudian saya segera melapor ke FAKTA,” tutur EU saat
ditemui di bengkel komputernya.

Tim FAKTA lalu menyerahkan VCD tsb ke MUI kota
Malang, yang kemudian diserahkan kepada aparat
kepolisian. “Sudah kami laporkan ke Polwil dan ke
Kapolda, tinggal menunggu kerja kepolisian sekarang,”
ujar sekretaris MUI Kota Malang M Nizhom hidayatullah
kepada Sabili.

VCD Ali Makhrus yang tengah ceramah tersebut
berdurasi 1 jam 11 menit 53 detik. Dalam ceramahnya,
si pendeta menggunakan baju formal berwarna biru motif
kotak-kotak. Lelaki berjenggot panjang dan rapi bak
aktivis islam ini sangat fasih menyitir ayat al-Quran
dan hadits Rasulullah SAW.

Dalam ceramahnya, Makhrus membual tentang berbagai
hal. Antara lain, ia mengklaim dirinya sebagai
keturunan Habib (cucu Rasulullah SAW, red) dari bani
Tamim dan pernah belajar di Makkah. Dia juga mengaku
telah diangkat sebagai ketua FPI Jatim pada tanggal 10
Jan 2004 silam, serta mengaku sangat dekat dengan
Ja´far Umar Thalib dan Laskar Jihad-nya.

Beberapa penghinaan yang diucapkan Makhrus dalam
ceramahnya itu antara lain menyebut bahwa Nabi
Muhammad diracun oleh istrinya ketika akan meninggal
dulu. “Pada saat usia 61 tahun, Muhammad tidak bisa
mendeteksi racun yang masuk di tubuhnya, karena
Muhammad diracun oleh istrinya sendiri, istri yang
ke-17. Jadi, total istrinya Muhammad itu ada 22,” kata
Makhrus.

Menurut dia, istri ke-17 inilah yang meracun Muhammad
selama dua tahun agar sekarat, hidup tidak matipun
tidak. Kejadian ini pula yang dijadikan dasar oleh
umat islam untuk membaca surah Yasin kala melihat
orang sakit atau sekarat. “Jadi surat Yasin dibaca
agar yang bersangkutan mau mati ya, agar cepat mati,
kalau hidup agar cepat sembuh,” ujarnya enteng.

Pendeta yang telah menipu beberapa kiai ini juga
menghina ibadah shalat Shubuh yang dilakukan umat
islam. Kata Makhrus, orang islam itu shalat shubuh
karena mengingat Yesus bangkit dari alam kubur yang
terjadi tepat pada saat shubuh. Kiamat juga akan
datang pada saat Subuh. “Itu menurut keyakinan mereka.

Dua masalah inilah yang membuat orang-orang islam
bangun dari tidurnya dan sujud menyembah dalam shalat
subuh.”

Pendeta yang pernah mondok di Pesantren ilmu
al-Qur´an (PIQ) Malang ini juga menganggap orang
kriten itu adalah majikan sedang orang islam adalah
pembantu.

Dia juga mengklaim bahwa 75 persen isi al-Qur´an
bersumber dari Alkitab (Injil). Dia menganggap
orang-orang yang pergi haji ke Makkah tak lebih dari
sekadar wisata, bukan ibadah.

Baginya, orang yang mencium Hajar Aswad adalah
mencium jin. Masih banyak lagi penghinaan Makhrus yang
bikin merah kuping.

Siapakah Makhrus? Tanggal 12 Oktober 2005 silam,
seorang pemuda 36 tahun bernama Pendeta Markus
Margiyanto datang menemui KH Abdullah Wasi´an
dirumahnya, di Sidoarjo, Jawa timur. Kepada kristolog
kondang itu, Markus menyatakan niatnya untuk pindah
agama dari Kristen ke Islam. Alasannya setelah membaca
buku KH Abdullah Wasi´an yang berjudul Benteng Islam
terbitan Pustaka Dai, ia jadi tertarik dengan islam.

Dengan berbaik sangka, mendengar paparan Markus yang
sangat memukau itu, KH Abdullah Wasi´an pun menuntun
pensyahadatan Markus tepat pukul 11.00 WIB. Syahadat
itupun ditandai dengan surat keterangan sementara yang
ditandatangai oleh KH Abdullah Wasi´an dan beberapa
saksi. Usai pensyahadatan, Pendeta Markus pulang
dengan disangoni uang tunai. Nama Islamnya pun menjadi
Makhrus.

Namun setelah majalah Modus melakukan pengecekan
secara mendetail pada bulan November 2005 lalu,
ditemukan sejumlah kebohongan pada Pendeta Markus
Margiyanto. Diantaranya, alamat KTP-nya di Jl. Pogot
Lama II/91 RW 06/05 Kalikedinding, Kenjeran, Surabaya
ternyata tidak benar. Karena rumah itu telah dijual
lima tahun lalu kepada Sutarso.

Sutarso pun mengaku tidak tahu menahu tentang seluk
beluk dan aktivitas Markus.

Sementara itu, Darmo, tetangga depan rumah Sutarso
yang tinggal di sana sejak tahun 1980 mengatakan bahwa
yang berprofesi sebagai pendeta itu adalah ayahnya
Markus. Setelah ditelusuri, ternyata markus bersama
keluarganya yang terdiri dari anak, istri, ibu dan
adiknya tinggal di Tanah merah II/22, Kalikedinding,
Kenjeran, Surabaya. Rumah yang sempat difungsikan
sebagai gereja ini asalnya adalah milik Pendeta Petrus
Salindeho yang pernah bermasalah dengan umat islam
hingga divonis hukuman penjara, beberapa tahun lalu.

Tak jauh dari rumah Markus di Tanah Merah itu,
tinggallah Ustadz Ahmad Ghazali, salah seorang tokoh
masyarakat yang menjabat sebagai Wakil Sekretaris PC
NU Surabaya. Ustadz Ghazali tahu persis daftar
penipuan Markus yang bermodus ingin masuk islam
dihadapan tokoh Islam lalu mendapat simpati sang tokoh
hingga mendapat hadiah sejumlah uang dan materi
lainnya.

Beberapa kiai yang sempat didatangi Markus, antara
lain KH Miftah, di Kedung Tarukan Surabaya yang
akhirnya menyumbangkan uang tunai Rp. 250.000 dan
sarung merek Al-Ma´ruf berharga ratusan ribu. Ada juga
KH Asep mantan ketua PC NU Surabaya, KH Abdul Syakur,
KH Abdurrahman Navis dan lainnya.

Masrukin adalah salah seorang korban penipuan Markus.
Dia adalah pengurus Masjid Nurul Jannah Kalilom,
Surabaya. Kira-kira empat tahun lalu, Markus
Margiyanto datang ke Mesjid Nurul Jannah dan
menyatakan niatnya untuk masuk islam. Diapun
disyahadatkan oleh Ridwan, modin setempat.

Setelah masuk islam, karenat tidak punya rumah,
Markus pun butuh rumah tinggal. Dengan ikhlas,
Masrukin memberikan salah satu rumahnya yang baru
selesai dibangun untuk ditempati Markus secara
Cuma-Cuma.
Diapun tinggal dirumah itu bersama istrinya, Muslimah
anak seorang kiai di Singosari, Malang.

Selama di rumah Masrukin, Markus sama sekali tidak
bekerja untuk
menafkahi anak dan istrinya. Kebutuhan sehari-harinya
ditanggung oleh jamaah mesjid, terutama oleh keluarga
Masrukin. “Mualaf itu bagi orang islam merupakan
aset,” alasan Masrukin.
Jamaah Masjid pun simpati dengan keislaman Markus,
sehingga segala
permintaannya dikabulkan jamaah. “Jamaah masjid sini
sudah banyak berkorban materi, tenaga dan pikiran
untuk Markus,” imbuh Masrukin.

Suatu saat, Masrukin merasakan ada gelagat yang lain
karena setiap hari Minggu, pagi-pagi Markus pergi
memakai baju yang rapi. “Ternyata Markus pergi ke
Gereja,” kata Masrukin. Maka Markuspun dia usir dari
rumahnya. Setelah pindah dari Kalilom, Markus
melancarkan penipuan yang sama dengan modus pura-pura
masuk islam untuk
mendapat simpati dan uang dari jamaah masjid di Tanah
Merah, Surabaya.

Jauh sebelum melancarkan aksinya di Surabaya. Pendeta
Markus pura-pura masuk islam dan nyantri di PIQ
Singosari Malang dibawah asuhan KH Bashori Alwi.
Karena sudah dipercaya, dia dijadikan menantu oleh KH
Ahmad Rifai, pengasuh sebuah pesantren di Singosari,
Malang.
Namun setelah mempunyai dua anak Markus memboyong
anak-anak dan istrinya ke Jakarta lalu mengkristenkan
semuanya.

Dalam pengakuannya kepada tim FAKTA Surabaya, Markus
mengungkapkan bahwa ceramah-ceramahnya yang menghina
islam itu berdasarkan pesanan gereja. Dia juga mengaku
ditekan oleh bapaknya dan paman-pamannya yang pendeta.
“Apa yang saya ungkapkan di VCD itu adalah rekayasa
palsu pihak gereja,” kata Markus kepada Masyhud, ketua
tim FAKTA Surabaya.

Selain tekanan gereja, Markus juga rela memberikan
kesaksian-kesaksian palsu tentang islam, karena alasan
ekonomi dan dorongan finansial. “Pihak gereja sengaja
memanfaatkan saya untuk membenturkan islam dengan
kristen,” beber pendeta yang memiliki 20 tempat
pemuridan tersebut.

Yang dimaksud tempat pemuridan adalah semacam tempat
pembinaan dan pendidikan Islamologi bagi umat kristen.

Markus juga menyebutkan bahwa pihak gereja sengaja
menyebarkan VCD ceramahnya itu untuk menghina umat
islam. Posisinya
sebagai mantan orang islam yang memberikan kesaksian
palsu tentang islam, bagi gereja akan lebih mengena.
Walau demikian, dia mengaku masih tetap seorang
muslim, bukan murtad. Tentu saja kesaksiannya ini
masih membutuhkan klarifikasi lebih lanjut.

Sudah banyak yang menjadi korban penipuan Pendeta
Markus Margiyanto.
Penipuan bermodus pura-pura masuk islam ini sungguh
berbahaya. Jika setiap saat bersyahadat di hadapan
tokoh islam untuk mendapat simpati dalam bentuk
materi, maka jelas bahwa “penipuan berkedok masuk
islam” adalah profesi Pendeta Markus.

Chairul Akhmad

Laporan: Kukuh Santoso (Malang)

terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s